Bismillah..
Apa kabar saudaraku sekalian??? Semoga sehat selalu dan senantiasa dalam lindungan Allah azza wajalla. Hari ini saya ingin berbagi kisah tentang kebencian para salaf terhadap popularitas yang kontras dengan kehidupan kita saat ini di mana popularitas nampaknya menjadi tujuan hidup. Semoga tulisan singkat ini bermanfaat dan mampu mendekatkan diri kita kepada Allah azza wajalla. Aamiin.
KEBENCIAN PARA SALAF TERHADAP POPULARITAS
Dari Habib biin Abu Tsabit, ia berkata, "Suatu hari, Ibnu Mas'ud pergi keluar rumah. Tiba-tiba orang-orang menguntit di belakangnya. Beliau kemudian bertanya, "Apakah yang kalian inginkan?' Mereka menjawab,'Tidak, kami hanya ingin berjalan bersamamu.' Beliau berkata, 'Pulanglah, yang demikian itu merupakan kehinaan bagi yang mengikuti, dan fitnah bagi yang diikuti'."
![]() |
Dari Harits bin Suwaid, Abdullah pernah berkata,"Seandainya kalian mengetahui apa yang kuketahui tentang diriku, niscaya kalian akan menaburkan tanah di atas kepalaku."
Dari Busthan bin Muslim, ia berkata, "Diceritakan bahwa Muhammad bin Sirin, apabila ada orang yang berjalan bersamanya, beliau akan berhenti dan bertanya, 'Ada yang bisa saya bantu?' Apabila ada, beliau segera memenuhi kebutuhan orang itu. Apabila orang tersebut kembali berjalan bersamanya, beliau akan bertanya lagi,'Ada yang bisa saya bantu?'
Al-Hasan pernah berkata, "Suatu hari aku pernah bersama Ibnu Mubarak. Kami mendatangi siqayah yang orang-orang biasa minum dari tempat itu. Lalu beliau mendekati tempat itu untuk meminum airnya. Orang-orang tidak mengenal bahwa beliau adalah Ibnu Mubarak. Maka mereka pun mendesak-desak dan mendorong-dorong beliau. Ketika keluar dari kerumunan, beliau berkata kepadaku, 'Hidup itu hanya seperti ini. Yakni, pada saat kita tidak dikenal dan tidak dihormati."
Al-Hasan melanjutkan, "Ketika kami sedang berada di Kufah, ada yang membacakan bab Manasik kepada Beliau, sehingga ketika sampai pada satu hadits, yang di dalamnya tertulis, 'Demikianlah pendapat Abdullah, dan demikian pulalah pendapat kami.' Maka beliau bertanya, 'Siapa yang menulis bahwa ini adalah pendapat saya,' Aku menjawab, 'Tentu orang yang bertugas yang menulisnya. 'Beliau terus saja menghapus tulisan itu dengan tangannya hingga hilang. 'Siapa saya sehingga pantas ditulis pendapat saya."
Demikianlah penggalan kisah dari para salafus salih, tujuan akhir mereka adalah Allah bukan popularitas di muka bumi ini.
(dikutip dari buku Kita dan Akhlak salaf. Hal:41,42)
(gambar: https://www.google.com/#q=akhlak+salaf)
